Dalam beberapa tahun terakhir, keputusan kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat telah menimbulkan kekhawatiran dan gejolak yang signifikan di kalangan aliansi global. Dengan meningkatnya nasionalisme dan isolasionisme di AS, tindakan Presiden telah memberikan kejutan melalui aliansi dan kemitraan tradisional.
Salah satu keputusan kebijakan luar negeri paling kontroversial yang dibuat oleh Presiden adalah penarikan diri dari Perjanjian Iklim Paris. Langkah ini mendapat kecaman luas dari negara-negara lain dan sekutunya yang melihatnya sebagai langkah mundur dalam perjuangan melawan perubahan iklim. Keputusan tersebut tidak hanya merusak reputasi AS sebagai pemimpin global dalam masalah lingkungan hidup, namun juga memperburuk hubungan dengan sekutu-sekutu utama yang telah bekerja sama untuk menegosiasikan perjanjian tersebut.
Keputusan kebijakan luar negeri penting lainnya yang telah mengguncang aliansi global adalah penerapan tarif impor baja dan aluminium dari sekutu utama seperti Kanada dan Uni Eropa. Langkah ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perang dagang dan memicu tindakan pembalasan dari negara-negara yang terkena dampak. Kebijakan proteksionisme Presiden telah memperburuk hubungan dengan negara-negara sekutu tradisional dan menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan perdagangan global.
Selain itu, pendekatan Presiden Trump terhadap diplomasi internasional telah menimbulkan keheranan di kalangan para pemimpin global. Gayanya yang tidak dapat diprediksi dan sering kali konfrontatif telah menimbulkan ketegangan dengan sekutu dan mitra utama. Keputusannya untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tanpa berkonsultasi dengan sekutu-sekutu utamanya di kawasan, misalnya, mengejutkan banyak orang dan menimbulkan kekhawatiran mengenai komitmen AS terhadap sekutu-sekutunya di kawasan Asia-Pasifik.
Secara keseluruhan, keputusan kebijakan luar negeri Presiden mempunyai dampak signifikan terhadap aliansi global. Para sekutu tradisional merasa tidak yakin akan komitmen AS terhadap nilai-nilai dan kepentingan bersama, sementara negara-negara lain semakin berani menantang kepemimpinan AS di panggung dunia. Ke depan, penting bagi Presiden untuk mempertimbangkan implikasi jangka panjang dari tindakannya terhadap aliansi global dan berupaya membangun kembali kepercayaan dengan mitra-mitra utama. Kegagalan untuk melakukan hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang luas terhadap kebijakan luar negeri AS dan kedudukannya di dunia.
